DPPKB Kutim Perkuat Edukasi KB Pria, Kelompok Peserta Didorong Lebih Aktif

Kutai Timur — Keterlibatan pria dalam program Keluarga Berencana (KB) masih menjadi tantangan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dari 49.547 pasangan usia subur (PUS), yakni pasangan suami istri yang berada dalam rentang usia reproduktif, yang tercatat terlayani program KB, baru 63 orang memilih vasektomi sebagai metode kontrasepsi.
Angka tersebut jauh dibandingkan kontrasepsi suntik yang digunakan 31.784 peserta. Data Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim itu memperlihatkan bahwa vasektomi masih menjadi pilihan yang relatif sedikit di tengah beragam metode pengaturan kehamilan yang tersedia.
Vasektomi merupakan prosedur kontrasepsi permanen bagi pria dengan memutus atau menutup saluran yang membawa sperma. Metode ini ditujukan bagi pria yang telah mantap tidak ingin menambah anak.
Karena sifatnya permanen, keputusan menjalani vasektomi perlu didahului konsultasi dengan tenaga kesehatan dan pembicaraan bersama pasangan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, menyebut hampir 70 pria telah menyatakan minat menjadi peserta KB pria. Ketertarikan tersebut menjadi salah satu tanda bahwa sosialisasi mengenai kontrasepsi bagi laki-laki mulai mendapat perhatian, meskipun jumlahnya masih terbatas dibandingkan keseluruhan peserta KB.
Dalam pemberitaan terkait persoalan tersebut, Yuriansyah menyoroti sifat permanen vasektomi sebagai salah satu hal yang perlu dipahami calon peserta.
Persetujuan suami dan istri, kondisi kesehatan, serta rencana memiliki anak menjadi pertimbangan penting sebelum keputusan diambil.
Selain aspek kesehatan, kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan anak juga menjadi bagian dari perencanaan keluarga. Setiap pasangan perlu mempertimbangkan kesiapan ekonomi dan tanggung jawab pengasuhan agar kebutuhan anak yang telah lahir tetap terpenuhi.
Untuk memperluas pemahaman masyarakat, DPPKB Kutim mengandalkan kelompok-kelompok KB pria yang telah terbentuk. Yuriansyah berharap kelompok tersebut tetap aktif dengan pendampingan penyuluh KB di desa dan kecamatan.
“Kelompok KB Pria yang sudah terbentuk perlu terus aktif agar edukasi mengenai kontrasepsi pria dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” ucap Yuriansyah saat diwawancarai di ruang kerrjanya.
Melalui pembinaan berkelanjutan, DPPKB berharap pria semakin memahami pilihan kontrasepsi yang tersedia dan terlibat dalam pengambilan keputusan KB bersama pasangan.
Dengan demikian, perencanaan keluarga dapat dilakukan secara sadar, sesuai kondisi kesehatan dan kebutuhan masing-masing keluarga. (TS/ADV)




