AdvertorialKominfo Kutai Timur

Belum Ada SMA, Akses Pendidikan di Sangkima dan Teluk Singkama Jadi Perhatian

Kutai Timur — Keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama menjadi salah satu perhatian di Kecamatan Sangatta Selatan. Kedua wilayah tersebut belum memiliki sekolah menengah atas (SMA), sehingga siswa yang telah menyelesaikan pendidikan SMP harus melanjutkan sekolah ke wilayah lain dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

Saat ini, fasilitas pendidikan di Sangkima dan Teluk Singkama disebut baru mencakup jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Kondisi tersebut membuat keberlanjutan pendidikan anak ke jenjang SMA harus bergantung pada sekolah yang berada di luar wilayah tempat tinggal mereka.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak di kedua wilayah tersebut. Ia menyampaikan hal itu di Kantor Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Jumat (25/9/2026).

“Di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama itu belum ada SMA, baru ada SMP dan SD,” kata Dewi.

Menurut Dewi, sebagian masyarakat akhirnya memilih tidak melanjutkan pendidikan anak setelah jenjang SMP. Jarak menuju sekolah tingkat SMA di luar wilayah menjadi salah satu pertimbangan yang dihadapi keluarga.

“Karena tidak ada SMA, umumnya masyarakat kami yang di wilayah Sangkima dan Teluk Singkama berhentinya hanya sampai SMP,” ujarnya.

Selain persoalan jarak, waktu perjalanan juga menjadi kendala bagi siswa yang bersekolah di luar wilayah. Anak-anak harus melalui akses perjalanan yang memiliki sejumlah risiko, termasuk jalur Pertamina yang disebut memiliki beberapa titik permukiman.

Jam kepulangan sekolah yang cukup sore membuat siswa berpotensi tiba di rumah ketika hari sudah mulai gelap.

“Anak-anak SMA pulang sekolah biasanya 16.30, sampai di rumah bisa magrib,” tuturnya.

Dewi menambahkan, sebagian orang tua yang ingin anaknya tetap melanjutkan pendidikan di luar desa harus mempertimbangkan biaya tempat tinggal atau kos. Kondisi tersebut juga berdampak pada pengawasan karena anak tidak lagi berada dalam pendampingan langsung orang tua setiap hari.

“Ketika anak-anak disekolahkan di luar desanya, kemungkinan besar orang tua harus mengkoskan anak-anak, risikonya si anak-anak jadi tidak didampingi langsung oleh orang tuanya,” jelasnya.

Selain faktor akses dan jarak, Dewi menyebut terdapat anak yang akhirnya tidak melanjutkan sekolah setelah mengalami kejadian yang disebut sebagai accident. Faktor pergaulan bebas dan persoalan lainnya juga dinilai turut memengaruhi keberlangsungan pendidikan anak.

“Dan fatalnya banyak yang berhenti sekolah karena accident, karena pergaulan bebas dan lain sebagainya,” tandasnya.

Menurut kondisi tersebut, ketersediaan fasilitas pendidikan dan kemudahan akses jalan menjadi dua hal yang saling berkaitan bagi masyarakat Sangkima dan Teluk Singkama. Kehadiran akses pendidikan yang lebih dekat diharapkan dapat membantu anak melanjutkan sekolah tanpa harus menghadapi kendala jarak, biaya, maupun perjalanan yang terlalu jauh.ADV

Related Articles

Back to top button