Tren Konsumen Berubah, Diskop UMK Kutim Minta UMKM Tangkap Peluang Usaha

Kutai Timur – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) didorong untuk tidak hanya menjalankan usaha dengan pola yang sudah ada. Perubahan kebiasaan dan selera masyarakat dinilai perlu menjadi perhatian agar pelaku usaha dapat menemukan peluang baru dan menyesuaikan bisnis dengan perkembangan pasar.
Kepala Dinas Koperasi dan UMK Kutim, Marhadyn, mengatakan kemampuan membaca perkembangan zaman menjadi salah satu hal yang penting bagi keberlangsungan UMKM. Menurutnya, peluang usaha dapat muncul dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang terus bergerak.
“Yang paling penting adalah kita harapkan pengusaha UMKM kita ini betul-betul bisa menangkap potensi ataupun peluang daripada perkembangan zaman,” kata Marhadyn saat ditemui di ruang kerjanya.
Perubahan tersebut, menurutnya, dapat dilihat dari perkembangan usaha kuliner, salah satunya bisnis kopi. Konsep yang sebelumnya sederhana kemudian berkembang mengikuti perubahan gaya konsumsi masyarakat, termasuk munculnya berbagai usaha kopi dengan konsep yang lebih modern.
“Dulu orang jual kopi pakai teko saja, biasa kopi-kopi warung. Sekarang dengan kafe, menjamurnya anak-anak muda yang menjual dengan skala modern,” katanya.
Namun, perkembangan tren tidak berhenti pada satu konsep. Marhadyn menilai selera konsumen dapat kembali berubah dan menghadirkan ketertarikan terhadap konsep yang sebelumnya dianggap sederhana atau lama. Ia mencontohkan tren retro yang mulai mendapatkan perhatian konsumen kopi.
“Sekarang kembali pada retro. Lihat itu malah yang disenangi oleh konsumen kopi,” paparnya.
Bagi Marhadyn, perubahan tersebut menjadi gambaran bahwa pelaku UMKM perlu terus mengamati apa yang sedang diminati masyarakat. Konsep usaha yang berhasil pada satu periode belum tentu menjadi pilihan konsumen dalam waktu berikutnya.
Karena itu, pelaku usaha perlu mampu menangkap perubahan tersebut sebagai peluang, bukan sekadar melihatnya sebagai perubahan selera konsumen. Penyesuaian dapat dilakukan melalui konsep usaha maupun cara menawarkan produk agar tetap memiliki daya tarik di tengah perkembangan kebutuhan pasar.
“Ini yang harus ditangkap oleh teman-teman UMKM,” tegasnya.
Kemampuan beradaptasi juga tidak berdiri sendiri. Marhadyn menilai pelaku usaha perlu mengimbanginya dengan pengelolaan bisnis yang baik. Dengan pengelolaan yang tepat, peluang yang muncul dari perubahan tren dapat diolah menjadi bagian dari pengembangan usaha.
“Ketika mereka mampu mengelola dengan baik dan menangkap potensi usaha sesuai dengan perkembangan zaman, mereka akan selalu bangkit,” jelasnya.
Menurutnya, pelaku UMKM yang mampu membaca kecenderungan masyarakat memiliki kesempatan untuk menyesuaikan usahanya sebelum kehilangan pasar. Hal tersebut juga menjadi penting karena perubahan kebutuhan konsumen dapat terjadi pada berbagai bidang usaha, tidak hanya sektor kuliner.
Diskop UMK Kutim karena itu mendorong pelaku usaha untuk lebih aktif memperhatikan lingkungan pasar dan perkembangan kebutuhan masyarakat. Informasi mengenai apa yang sedang diminati konsumen dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan konsep maupun arah pengembangan bisnis.
Pola tersebut diharapkan membuat UMKM tidak terpaku pada satu bentuk usaha. Pelaku usaha dapat terus mengevaluasi dan menyesuaikan bisnisnya berdasarkan peluang yang muncul, sekaligus tetap memperhatikan kemampuan dalam mengelola usaha.
Dengan kemampuan membaca perubahan tren, menangkap peluang dan mengelola usaha secara baik, UMKM di Kutim diharapkan dapat mempertahankan aktivitas bisnisnya di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Adaptasi tersebut menjadi salah satu langkah yang didorong Diskop UMK agar pelaku usaha tetap mampu berkembang mengikuti dinamika pasar. (NY/ADV)




