DPRD Kutai Timur

Amplang Kutim ‘Mati Suri’ Pasca-COVID, DPRD Desak Suntikan Modal dan Pemasaran Digital

SANGATTA – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produsen amplang, camilan kerupuk ikan yang menjadi ikon kuliner Kutai Timur (Kutim), dilaporkan tengah menghadapi masa krisis serius. Pasca-pandemi COVID-19, sejumlah kelompok usaha yang sebelumnya produktif kini mengalami kondisi “mati suri” atau stagnasi total. Menanggapi realitas ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim mendesak pemerintah daerah untuk segera melakukan intervensi penyelamatan.

Anggota DPRD Kutim, Yusri Yusuf, menyoroti bahwa sebelum pandemi, industri rumahan amplang sempat berkembang sangat pesat. Namun, guncangan ekonomi global membuat banyak perajin gulung tikar.

“Amplang itu sudah pernah ada dan masih ada, dan ada beberapa kelompok yang sudah mati suri. Karena amplang itu kan sempat berkembang sebelum covid, setelah covid mereka tidak berproduksi lagi karena mungkin kehabisan modal atau lemahnya ekonomi,” ujar Yusri di Sangatta, Rabu (19/11/2025).

Yusri menekankan analisisnya bahwa penyebab utama stagnasi ini adalah habisnya modal kerja, bukan karena hilangnya permintaan pasar. Produk ini terbukti memiliki nilai jual tinggi. Oleh karena itu, DPRD merumuskan solusi intervensi yang harus dilakukan pemerintah, yakni:

  1. Pemulihan Modal Kerja: Pemberian bantuan permodalan lunak agar dapur produksi dapat kembali mengepul.

  2. Modernisasi Pemasaran: Melakukan pendampingan manajemen, perbaikan kualitas kemasan (packaging), serta pelatihan pemasaran digital agar produk dapat menjangkau pasar yang lebih luas di era online ini.

DPRD berharap langkah revitalisasi ini dapat segera mengembalikan sumber pendapatan bagi keluarga perajin yang memiliki keahlian khusus tersebut, sekaligus menyelamatkan aset kuliner daerah agar tidak punah.(Adv)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button