AdvertorialKominfo Kutai Timur

Sebanyak 200 Lansia di Kutim Ikuti Program Edukasi Kesehatan dan Kebugaran

Kutai Timur – Sebanyak 200 warga lanjut usia (lansia) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengikuti program Sekolah Lansia yang memberikan pembelajaran mengenai kesehatan, kebugaran, dan kesejahteraan di usia lanjut. Program yang dijalankan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim tersebut telah menyelesaikan delapan dari total 10 pertemuan yang direncanakan tahun ini.

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, Ani Saidah, menyampaikan bahwa pelaksanaan program berjalan dengan baik. Dengan capaian delapan pertemuan, kegiatan tersebut telah mencapai 80 persen dari keseluruhan agenda pembelajaran. Dua pertemuan yang tersisa akan menjadi bagian penutup dari rangkaian program tahun ini.

“Sekolah Lansia saat ini masih berjalan dengan sangat baik. Dari target 10 kali pertemuan, kita sudah menyelesaikan 8 kali kegiatan, sehingga tinggal menyisakan dua pertemuan lagi,” ujar Ani.

Pelaksanaan Sekolah Lansia tahun ini menjangkau empat lokasi, yakni Desa Swarga Bara, Desa Singa Gembara, Kelurahan Teluk Lingga, serta Kecamatan Sangatta Utara. Sebanyak 200 lansia tercatat terdaftar dan aktif mengikuti rangkaian kegiatan yang diselenggarakan di lokasi-lokasi tersebut.

Materi pembelajaran dirancang untuk memenuhi kebutuhan lansia dari berbagai aspek kehidupan. DPPKB Kutim menghadirkan narasumber dari beragam bidang agar peserta memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan mereka. Pendekatan lintas profesi tersebut juga memungkinkan peserta mendapatkan pemahaman yang lebih luas mengenai cara menjaga kualitas hidup pada masa lanjut usia.

“Kami mendatangkan langsung narasumber yang kompeten di bidangnya, seperti dokter spesialis dan tenaga medis dari rumah sakit, psikolog, hingga instruktur senam. Selain itu, kami juga menyelipkan materi bimbingan kerohanian atau religi agar para peserta mendapatkan perhatian secara utuh, baik fisik maupun mental,” jelasnya.

Pembelajaran yang diberikan tidak terbatas pada penyampaian materi di dalam kelas. Peserta juga mengikuti aktivitas fisik berupa senam lansia, memperoleh pengetahuan tentang penerapan pola hidup sehat, serta mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan stres. Selain itu, pendampingan psikologis menjadi bagian dari upaya memperhatikan kondisi mental peserta.

Interaksi sosial juga mendapat perhatian dalam pelaksanaan program tersebut. Kesempatan untuk bertemu dan beraktivitas bersama peserta lain diharapkan dapat membantu lansia mempertahankan hubungan sosial serta mengurangi potensi munculnya rasa kesepian. Dengan adanya kegiatan bersama, peserta memiliki ruang untuk tetap berinteraksi dan terlibat dalam lingkungan di sekitarnya.

Pendekatan yang diterapkan melalui Sekolah Lansia mencakup kesehatan fisik, kondisi mental, dan kebutuhan spiritual. Ketiga aspek tersebut menjadi perhatian dalam memberikan pembelajaran yang menyeluruh, sehingga lansia tidak hanya memperoleh informasi kesehatan, tetapi juga dukungan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.

DPPKB Kutim berharap program ini dapat membantu mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, dan produktif atau dikenal dengan istilah SMART. Harapan tersebut sejalan dengan tujuan pembelajaran yang mendorong peserta tetap menjaga kebugaran, mengembangkan kemandirian, dan mempertahankan keterlibatan sosial meskipun telah memasuki usia lanjut.

Melalui pelaksanaan Sekolah Lansia di empat lokasi tersebut, DPPKB Kutim berupaya memberikan ruang belajar bagi warga lanjut usia agar tetap memperoleh pengetahuan dan dukungan sesuai kebutuhan mereka. Program ini diharapkan dapat mendukung lansia agar terus berperan positif dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat. (EL/ADV)

Related Articles

Back to top button