AdvertorialKominfo Kutai Timur

Saat Drone Mulai Turun ke Sawah, Kutim Dorong Perubahan Cara Bertani

Kutai Timur – Perubahan cara bertani mulai dilakukan di Kabupaten Kutai Timur seiring dengan semakin terbatasnya tenaga penggarap di lapangan. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim mulai mendorong pemanfaatan mekanisasi dan teknologi sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pekerjaan sekaligus memperkenalkan pola pertanian yang lebih modern.

Pelaksana Tugas Kepala DTPHP Kabupaten Kutai Timur Purno Edi mengatakan, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu petani menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang lebih singkat. Salah satu penerapannya adalah penggunaan drone pada kegiatan pertanian dengan luasan tertentu.

Purno menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Kantor DTPHP Kutim. Menurutnya, penerapan teknologi menjadi semakin relevan karena jumlah petani penggarap yang tersedia saat ini mengalami penurunan.

“Metode ini pertama tujuannya untuk efisiensi, kenapa, pertama petani penggarapnya itu menurun, berkurang, maka sama ini merangsang atau terkait dengan transformasi teknologi,” jelasnya.

Penggunaan drone dinilai dapat membantu mempercepat pekerjaan pada lahan dengan kondisi dan luasan tertentu. Meski demikian, penerapan teknologi tersebut tidak serta-merta menggantikan seluruh pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual. Efektivitasnya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan metode kerja di masing-masing lahan.

Bagi DTPHP, mekanisasi juga memiliki tujuan yang lebih luas, yakni memperkenalkan sektor pertanian kepada generasi muda. Teknologi diharapkan dapat menjadi daya tarik bagi generasi milenial dan Generasi Z untuk melihat pertanian sebagai bidang yang dapat berkembang seiring kemajuan teknologi.

“Transformasi teknologi itu siapa mereka, biasanya kan milenial dan gensi ini harapannya, ada enggak nih yang mau jadi petani di sini, dari lima orang ini, berat ya,” ujarnya.

Purno mengakui, minat generasi muda untuk terjun langsung menjadi petani masih menjadi tantangan. Karena itu, perubahan pola kerja dinilai penting agar pekerjaan di sektor pertanian tidak lagi identik sepenuhnya dengan aktivitas manual yang membutuhkan banyak tenaga.

Selain pemanfaatan drone, DTPHP Kutim juga mulai menjalankan program baru yang disebut PMAS. Program tersebut turut memberikan perhatian terhadap penggunaan benih dan tenaga kerja dalam kegiatan budidaya. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkenalkan pola kerja yang lebih terukur.

“Jadi dengan transformasi teknologi itu supaya merangsang dan minatnya tinggi, maka dari luasan yang ada itu menggunakan drone, kalau terkait efektif, efektif secara tenaga, supaya lebih cepat,” sebutnya.

Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah menghadapi perubahan kondisi tenaga kerja di sektor pertanian. Ketika jumlah tenaga penggarap semakin terbatas, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga dapat dibantu dengan mekanisasi sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, transformasi tersebut diharapkan dapat menciptakan citra baru terhadap profesi petani. Pertanian tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengoperasikan teknologi, memahami metode budidaya, serta mengelola pekerjaan secara lebih efisien.

DTPHP Kutim melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk mendorong regenerasi petani. Dengan semakin dekatnya teknologi dengan aktivitas pertanian, generasi muda diharapkan memiliki ketertarikan untuk mengenal sekaligus terlibat dalam sektor tersebut.

Meski demikian, penerapan teknologi tetap membutuhkan penyesuaian dengan kondisi lapangan dan kesiapan sumber daya manusia. Keberhasilan transformasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat, tetapi juga oleh kemauan generasi muda untuk masuk dan mengembangkan sektor pertanian.

Melalui mekanisasi dan pemanfaatan teknologi, Kutai Timur secara bertahap mendorong perubahan pola kerja pertanian. Upaya tersebut diharapkan dapat menjawab keterbatasan tenaga penggarap sekaligus membuka ruang bagi generasi baru untuk melihat pertanian sebagai sektor yang modern dan memiliki peluang untuk berkembang. (SH/ADV)

Related Articles

Back to top button