AdvertorialKominfo Kutai Timur

Penanganan Keluarga Berisiko Stunting di Sangatta Selatan Perlu Disesuaikan dengan Kondisi

Kutai Timur — Upaya menangani keluarga yang masuk dalam kelompok berisiko stunting di Kecamatan Sangatta Selatan dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih spesifik. Pemberian makanan tambahan (PMT) saja dianggap belum tentu menjawab persoalan yang dihadapi setiap keluarga karena kondisi dan kebutuhan mereka berbeda-beda.

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi mengatakan intervensi seharusnya ditentukan berdasarkan persoalan yang ditemukan pada masing-masing keluarga. Selain aspek makanan dan gizi, faktor lain seperti kondisi rumah, sanitasi, toilet hingga kemampuan ekonomi juga dapat menjadi bagian dari permasalahan yang perlu ditangani.

Dewi menekankan bahwa keakuratan data menjadi hal mendasar sebelum pemerintah maupun pihak terkait menentukan bentuk bantuan atau intervensi yang diberikan kepada keluarga yang teridentifikasi memiliki risiko stunting.

“Menurut saya kalau datanya tidak valid maka pendekatan yang kita gunakan juga jadi sia-sia,” kata Dewi di Kantor Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Jumat (25/9/2026).

Ia melihat di tingkat desa masih terdapat kecenderungan menjadikan PMT sebagai bentuk intervensi utama bagi keluarga yang masuk dalam kelompok risiko stunting.

“Teman-teman di desa sekarang langsung PMT, PMT, PMT, pemberian makanan tambahan,” ujarnya.

Padahal, setelah melihat kondisi keluarga yang masuk dalam kategori tersebut, persoalan yang ditemukan tidak selalu berkaitan dengan keterbatasan makanan atau asupan gizi. Faktor lingkungan dan kondisi tempat tinggal juga dapat menjadi indikator yang perlu mendapatkan penanganan.

“Bukan hanya permasalahan kekurangan makan atau kekurangan gizi, permasalahannya bisa masuk indikator keluarga risiko ketika toiletnya bermasalah,” tuturnya.

Selain persoalan toilet dan sanitasi, kondisi hunian serta kemampuan ekonomi keluarga juga perlu diperhatikan dalam menentukan bentuk intervensi.

“Rumahnya tidak layak huni, pendapatannya tidak memadai,” jelasnya.

Menurut Dewi, kondisi keluarga lainnya, termasuk jumlah anak yang dimiliki, juga dapat menjadi bagian dari indikator risiko. Karena itu, pemberian bantuan dengan pendekatan yang sama kepada seluruh keluarga dinilai belum tentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

“Kalau pendekatan yang kita lakukan hanya pemberian makanan tambahan, saya kira tidak tepat sasaran, kebutuhannya tidak semua sama,” tandasnya.

Dewi mendorong agar penanganan keluarga berisiko stunting dilakukan berdasarkan hasil identifikasi kondisi masing-masing keluarga. Intervensi dapat diarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik, seperti perbaikan toilet, penyediaan rumah yang layak, serta pemenuhan sanitasi, sehingga upaya penanganan tidak hanya terfokus pada pemberian makanan tambahan.ADV

Related Articles

Back to top button