DPPKB Kutim Siapkan Program “Cap Jempol Stop Stunting” untuk Tekan Angka Stunting

Sangatta – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) akan meluncurkan program Cap Jempol Stop Stunting sebagai langkah nyata dalam menekan angka stunting di wilayah tersebut.
Program ini diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama lintas sektor dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting yang masih berada di angka 20,6 persen pada tahun 2024.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, mengatakan program tersebut telah diluncurkan secara resmi pada 27 Oktober 2024.
Sebelumnya, sosialisasi telah dilakukan melalui siaran televisi nasional untuk memperkenalkan konsep dan tujuan program kepada masyarakat luas.
“Kemarin kami sudah melakukan sosialisasi melalui TV nasional terkait program ini,” ujarnya di Sangatta.
Junaidi menjelaskan, program Cap Jempol Stop Stunting merupakan gerakan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga mitra, dunia usaha, hingga masyarakat.
Melalui pendekatan “jemput bola”, petugas akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendataan, pendampingan, dan edukasi terhadap keluarga berisiko stunting.
“Program ini dilakukan secara kolaboratif oleh OPD, organisasi mitra, atau dunia usaha sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing. Semua pihak diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam mewujudkan keluarga sehat dan bebas stunting,” jelasnya.
Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya fokus pada aspek kesehatan anak, tetapi juga menyentuh sektor lain seperti ketahanan pangan, sanitasi, dan edukasi keluarga. Dengan demikian, penanganan stunting dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Penurunan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja. Diperlukan sinergi dan komitmen bersama dari seluruh elemen masyarakat, karena ini menyangkut masa depan generasi Kutai Timur,” tegas Junaidi.
Ia menambahkan dengan adanya program Cap Jempol Stop Stunting, daoat menjadi pilot project penanganan stunting yang lebih mudah, serta dapat dicontoh oleh daerah lainnya.
“Semoga program ini bisa menjadi percontohan bagi Kalimantan Timur, bahkan secara nasional, agar penurunan angka stunting menjadi fokus bersama dan hasilnya bisa segera dirasakan masyarakat,” pungkasnya.(ADV).




