AdvertorialKominfo Kutai Timur

Jumlah Pelaku Ekraf di Kutim Meningkat, Dispar Dorong Validasi Data Lewat Sindekraf

Sangatta – Jumlah pelaku ekonomi kreatif (Ekraf) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami peningkatan signifikan setelah Dinas Pariwisata (Dispar) melaksanakan program Sinergi Data Ekraf (Sindekraf).

‎Program ini bertujuan memvalidasi dan memperbarui data pelaku Ekraf sebagai dasar pengembangan sektor ekonomi kreatif di daerah.

‎Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kutim, Akhmad Rifanie, mengatakan pendataan melalui Sindekraf berhasil mendeteksi 72 pelaku Ekraf, meningkat dari sebelumnya yang kurang dari 10.

‎Menurutnya, hasil ini menjadi langkah awal penting dalam upaya memperkuat data dan memperluas jangkauan pembinaan kepada pelaku ekonomi kreatif di seluruh wilayah Kutim.

‎“Melalui pendataan ini, kami ingin memastikan semua pelaku Ekraf terakomodasi agar pembinaan dan bantuan bisa lebih tepat sasaran,” ujar Rifanie di Sangatta, Selasa (11/11).

‎Ia menambahkan, data yang akurat sangat dibutuhkan sebagai acuan pemerintah daerah dalam menyusun program pembinaan, pelatihan, hingga fasilitasi permodalan bagi pelaku usaha di sektor ekonomi kreatif. Dengan basis data yang jelas, potensi dan kendala di lapangan dapat diidentifikasi lebih cepat.

‎Rifanie menjelaskan, Sindekraf merupakan bagian dari Rencana Aksi Perubahan yang dijalankan oleh Dispar Kutim sebagai bentuk inovasi dalam sistem pendataan dan pengelolaan informasi pelaku ekonomi kreatif.

‎Melalui pendekatan berbasis data dan teknologi, program ini diharapkan dapat menciptakan sistem pendataan yang lebih efektif dan terintegrasi.

‎Selain pendataan manual, Dispar Kutim juga mengoptimalkan penggunaan Sistem Informasi Ekonomi Kreatif dan Pariwisata (Siekta) sebagai platform digital yang mempermudah koordinasi antarperangkat daerah.

‎Sistem ini memungkinkan pembaruan data secara berkala sekaligus menjadi media komunikasi antara pemerintah dan pelaku Ekraf.

‎Menurut Rifanie, sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar di Kutim dengan 17 subsektor unggulan, mulai dari kriya, fesyen, kuliner, musik, film, fotografi, hingga aplikasi dan permainan digital.

‎“Kami ingin memastikan potensi itu benar-benar termanfaatkan melalui pembinaan yang berkelanjutan,” jelasnya.

‎Ia menegaskan, penguatan sektor ekonomi kreatif sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam mendorong diversifikasi ekonomi di luar sektor sumber daya alam.

‎“Ekonomi kreatif bisa menjadi penggerak baru bagi ekonomi lokal karena mengandalkan kreativitas dan inovasi masyarakat,” katanya.

‎Rifanie berharap, melalui pendataan yang terus diperbarui, pemerintah dapat menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih kuat, adaptif, dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.(ADV)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button