Optimalisasi Pajak Walet Jadi Strategi Baru Tingkatkan PAD Kutim

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) terus berinovasi dalam menggali sumber-sumber baru Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satu sektor yang kini menjadi fokus adalah pajak sarang burung walet, yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi namun selama ini belum tergarap secara maksimal.
Kepala Bapenda Kutim, Syahfur, mengungkapkan pihaknya tengah melakukan pemetaan potensi ekonomi di seluruh kecamatan untuk mengidentifikasi sektor-sektor unggulan.
Dari hasil evaluasi sementara, usaha sarang burung walet menjadi salah satu sektor potensial yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan PAD daerah.
“Potensinya ada di banyak kecamatan seperti Sangkulirang, Bengalon, dan Kaubun. Namun selama ini belum masuk dalam pengelolaan pajak daerah secara optimal,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (12/11/2025).
Bapenda Kutim, lanjutnya, akan melakukan pendataan ulang dan verifikasi lapangan terhadap seluruh pelaku usaha sarang burung walet, baik yang berskala kecil maupun besar.
Data tersebut nantinya akan menjadi dasar penetapan objek dan besaran pajak yang lebih akurat serta sesuai dengan ketentuan peraturan daerah yang berlaku.
“Pendataan ini penting agar penagihan bisa lebih terukur, adil, dan tidak menimbulkan kesenjangan antar pelaku usaha,” jelasnya.
Selain melakukan pendataan, Bapenda juga berencana menggandeng pemerintah kecamatan dan desa dalam proses pengawasan serta pengumpulan data di lapangan.
Hal ini dilakukan untuk memastikan potensi pajak walet benar-benar terhimpun secara maksimal.
“Langkah ini tidak hanya untuk meningkatkan penerimaan, tetapi juga untuk menertibkan administrasi perpajakan daerah agar lebih transparan,” tambah Syahfur.
Ia berharap optimalisasi pajak sarang burung walet dapat menjadi salah satu pendorong utama peningkatan PAD Kutim pada tahun 2026 mendatang, sekaligus memperkuat kemandirian fiskal daerah tanpa bergantung penuh pada dana transfer pusat.
“Jika potensi ini bisa dikelola dengan baik, kontribusinya terhadap PAD akan cukup besar dan berkelanjutan,” pungkasnya.(ADV).




