Krisis Dokter Spesialis RS Muara Bengkal: TPP Kecil Jadi Biang Keladi, Pelayanan Kesehatan Terhambat

SANGATTA – Rumah Sakit (RS) Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), meskipun telah beroperasi, menghadapi kendala serius berupa kekurangan dokter spesialis. Akar permasalahan utamanya dinilai terletak pada insentif dan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang kecil, membuat pelayanan kesehatan di wilayah tersebut terhambat.
Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari Anggota DPRD Kutim, Shabaruddin. Ia mengungkapkan bahwa TPP yang kurang kompetitif menjadi alasan utama para dokter spesialis enggan datang atau bertugas lama di RS Muara Bengkal.
“Makanya sampai sekarang masih kekurangan dokter spesialis. Alasannya, karena para dokter ini merasa gajinya atau TPP tergolong kecil,” ungkap Shabaruddin.
TPP yang dinilai kurang kompetitif dibandingkan daerah lain menjadi penghalang utama dalam menarik tenaga medis ahli. Akibatnya, RS Muara Bengkal tidak dapat memberikan kualitas dan jenis layanan medis yang maksimal kepada masyarakat Muara Bengkal dan sekitarnya.
Shabaruddin menegaskan bahwa DPRD Kutim bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait kini sedang berupaya mencari solusi pendanaan alternatif untuk meningkatkan TPP bagi tenaga kesehatan. Upaya ini dilakukan untuk menarik dan mempertahankan para dokter spesialis agar mau bertugas di wilayah tersebut.
Namun, pencarian solusi ini menghadapi kendala utama, yakni batasan regulasi yang tidak memperbolehkan nilai TPP melampaui TPP Sekretaris Daerah (Sekda). Pihak Pemkab bersama tim teknis sedang mengkaji sumber-sumber pendanaan alternatif yang tepat dan tidak melanggar aturan. Tujuannya adalah memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.(Adv)




